SEKILAS INFO
: - Minggu, 13-06-2021
  • 1 tahun yang lalu / Penerimaan santri baru Tahun Ajaran 2020/2021 Gelombang I 01 Januari s/d 28 Maret 2020
Perjuanganku

Tulisan ini sudah diterbitkan oleh media online Acehtrend source

Oleh Rahmah Nauli*

INILAH aku. Bungsu dari tiga bersaudara yang berasal dari pedalaman dataran tinggi Gayo. Sepuluh tahun lalu, ketika umurku baru beranjak tiga tahun, ibuku meninggal dunia. Aku memiliki dua saudara perempuan. Kami berasal dari keluarga yang tidak mampu.

Saat usiaku menginjak enam tahun, ayahku menikah lagi dengan seseorang yang kemudian menjadi ibu tiriku. Bak dalam sinetron-sinetron, dia yang awalnya kuharap bisa menjadi ibu penggantiku malah sebaliknya. Dia ibu tiri yang sangat kasar. Aku sering mendapatkan perlakuan tak wajar darinya.

Setelah kedua kakakku merantau ke Banda Aceh, otomatis hanya tinggal aku di rumah. Saat itu aku masih sekolah di sebuah SD di Kecamatan Rusip Antara, Aceh Tengah. Ayah selalu menjemputku menjelang magrib. Bagiku ayah adalah seorang superhero.

Ayah merasa kasihan kepadaku karena perlakuan ibu tiriku yang sangat tidak wajar. Misalnya, suatu hari, saat itu hujan sangat lebat tetapi ibu tiriku menyuruhku mencuci piring di belakang rumah sehingga membuatku kebasahan. Ayahku yang sebelumnya tidur menjadi sangat marah setelah terbangun dan melihatku diperlakukan seperti itu. Esoknya, mereka berpisah rumah walaupun tidak bercerai.

Ayahku lantas menyuruhku pindah ke sekolah tempat nenek dari ibuku di kabupaten tetangga. Saat aku tiba di sana, teman-teman baruku terkejut melihat penampilanku yang seperti bocah lelaki. Dulu, rambutku itu selalu dipotong pendek.

Aku juga tidak memiliki rok. Bahkan di hari pertama sekolah, ayahku minta izin pada kepala sekolah agar aku diperkenankan memakai celana. Beruntung kepala sekolah mengizinkannya. Namun, di hari pertama sekolah, ada kejadian memilukan yang kualami. Jilbab yang kupakai dibuka oleh teman baruku. Hari itu aku sangat memusuhinya hingga bel pulang tiba.

Maaf aku belum cerita. Dulu aku itu paling benci bermain dengan teman perempuan. Temanku itu rata-rata adalah laki-laki. Jadi, kalau aku dekat dengan teman perempuan ada semacam rasa geli padahal kan aku perempuan juga. Sepulang dari sekolah aku mengganti baju dan bermain bersama teman-teman untuk mencari kepiting dan kangkung. Namun, saat aku pulang tiba-tiba nenekku memukul punggungku dengan bambu.

Sebagai seorang anak kecil, berat badanku saat itu paling-paling hanya 25 kilogram. Tiada hari yang kulewatkan tanpa mendapat pukulan dari nenek. Ketika ayah datang untuk menjengukku, ternyata ia menyadari kondisiku.

“Kenapa badanmu, Nakku?” tanya ayah.

“Jatuh, Yah.” Aku menjawab dengan cepat.

Ayah tak ingin percaya begitu saja. Ia menatapku dengan serius, “Ada nenekmu mukulin kamu?” tanyanya.

Aku tidak menjawab apa-apa.

Setiap aku dipukuli oleh nenek dan di-bully oleh teman-teman, aku tidak sekolah bahkan pernah hingga tiga bulan lamanya. Saat itu hampir memasuku kelas enam sehingga aku tidak naik kelas karena banyak sekali alpa.

Ayahku sendiri sudah tahu bila setiap hari aku dipukuli oleh nenek. Ayah bilang, “Yang sabar ya, Nakku, enggak lama lagi.”

Saat itu aku bilang pada ayah, “Yah, aku nanti kalau sudah tamat kelas enam nggak mau sekolah lagi. Aku mau menanam kopi saja di kebun.”

Ayahku tidak menanggapi pertanyaanku. Rupanya hal itu juga diketahui oleh kedua kakakku. Mereka menasihatiku saat pulang ke kampung di bulan Ramadan.

“Dek, lanjut aja sekolah. Nanti kalau kamu nggak sekolah mau jadi apa?” tanya salah satu kakakku.

“Jadi orang,” jawabku asal.

Akhirnya aku terpaksa sekolah karena kakak selalu memaksa.

***

Rambutku mulai memanjang karena ayah tidak lagi mengizinkan aku memotong rambut. Saat tamat SD, rambutku sudah sepanjang bahu. Tahun itu juga, setelah bulan Ramadan kakak keduaku mengusahakan agar aku bisa masuk ke Pesantren Baitul Arqam untuk melanjutkan pendidikan tsanawiyah. Alhamdulillah Allah mengirimkan malaikat bagiku.

Aku sangat senang bisa sekolah di sini. Awal-awal aku ke sini, aku juga belum mempunyai rok dan jilbab. Rok dan jilbab yang kupakai pinjaman dari kakak keduaku. Hari pertama tiba di Banda Aceh, aku tidak langsung ke pesantren tetapi ke tempat nenek dari pihak ayah. Selama tiga hari di rumah nenek, bibi membuatkan berbagai macam kue untuk dibawa ke pesantren seperti nastar, bolu, dan beberapa lainnya.

Pagi-pagi aku dan kakak kedua naik labi-labi menuju Sibreh, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Besar. Akhirnya kami tiba di gerbang pesantren. Beberapa adik kelas kakak keduaku tampak melihatku dengan heran. Barangkali karena saat itu aku masih memakai jelana jin dan blus selutut, serta jilbab yang pendek.

Oh ya, awalnya aku juga sempat tidak nyaman dengan suasana di pesisir yang sangat panas. Dalam sehari aku bisa mandi sampai empat kali untuk menghilangkan rasa gerah. Aku mulai mendapatkan kawan-kawan baru dan memiliki seorang teman bernama Alda dan ternyata dia adiknya Kak Puput.

Aku juga memiliki teman laki-laki, tetapi kata kakakku aku harus menjaga pergaulan dengan mereka seperti tidak boleh menyentuh-nyentuh karena nonmahram. Jadinya aku hanya sekadar berteman saja dengan mereka.

Kakakku yang juga masih menjadi santri di pesantren mengajariku membaca Alquran. Waktu itu mengajiku belum lancar, aku selalu terbalik-balik antara huruf dha, tha, zha, dan sha. Namun kakak mengajarkanku dengan cara yang mudah untuk diingat. Setelah khatam belajar Iqra, aku masih belum lancar membaca Alquran sehingga oleh Ustaz Yasir aku diminta belajar khusus dengan Kak Puput setelah salat Zuhur.

Aku kerap menangis saat mengaji dengan Kak Puput, padahal dia sama sekali tidak pernah marah-marah. Namun ketika aku melihat semua teman-temanku sudah belajar Alquran aku jadi sedih tapi aku tidak menyerah.

Kakakku pernah bilang, kalau aku mampu menghafal dua juz Alquran, dia akan membelikanku sebuah Alquran yang memiliki terjemahan. Aku juga suka sekali membaca kisah-kisah nabi. Alhamdulillah aku sudah khatam Iqra, dan mulai menghafal Juz Amma. Alhamdulillah aku sudah bisa menghafal dua juz tetapi kakakku belum bisa membelikan Alquran yang dijanjikannya. Itu tidak apa-apa. Aku tidak putus asa hanya karena itu.

Ujian nasional tsanawiyah telah tiba dan kami satu angkatan lulus semua. Hari wisuda sudah tiba dan semua sangat gembira walaupun nanti kami akan berpisah. Sekarang aku sudah duduk di kelas satu aliyah, kakakku pun telah menepati janjinya memberikan aku sebuah Alquran yang memiliki arti sekaligus. Aku sangat senang. Ditambah beberapa tahun lalu kakak pertamaku juga sudah menikah dan memiliki seorang putra. Sementara ayahku sudah bercerai dengan ibu tiriku.

Kawan-kawan, inilah kisah hidupku. Semoga kalian yang di luar sana jangan mudah berputus asa karena Allah akan menunjukkan jalan yang terbaik bagi hamba-Nya.[]

Santri Kelas I Madrasah Aliyah Pesantren Baitul Arqam, Sibreh, Aceh Besar

TINGGALKAN KOMENTAR

Video Terbaru

Data Sekolah

Dayah Pesantren Baitul Arqam (MTs dan MA)

NPSN : 69788268 / 69963522

Jln Banda Aceh Medan KM 15,5 Tampok Blang
KEC. Sukamakmur
KAB. Aceh Besar
PROV. Aceh
KODE POS 23361
TELEPON 08116800210
FAX 0000000
EMAIL info@baitularqam.sch.id

Maps Sekolah