SEKILAS INFO
: - Minggu, 13-06-2021
  • 1 tahun yang lalu / Penerimaan santri baru Tahun Ajaran 2020/2021 Gelombang I 01 Januari s/d 28 Maret 2020
Tekad Ustazah Marini Menempuh Pendidikan hingga ke Mesir

Tulisan ini sudah dimuat pada portalsatu.com source link

Oleh Geubrina Tifal Nada*

SIAPA bilang wanita tidak bisa sukses dan tidak perlu sekolah tinggi? Menjadi orang sukses merupakan impian semua orang, tak terkecuali bagi seorang wanita. Jalan yang ditempuh seorang wanita meraih kesuksesannya pun berbeda-beda. Tujuan mereka untuk sukses juga berbeda-beda.

Namun semuanya tergantung pada niat dan usaha yang teguh untuk menggapai cita-cita tersebut. Salah satu wanita itu adalah Bu Guru Nurmarini Abdurrahman. Saya beruntung bisa mengetahui banyak tentang lika-liku perjuangannya setelah berbincang dengannya.

Hari Sabtu, 29 Februari 2020, matahari tepat berada di atas kepala. Teriknya menyebabkan kerongkongan terasa kering. Saat itu, tepatnya pada jam istirahat, saya sedang berada di asrama. Tiba-tiba saya dipanggil ke kantor dan mengurungkan niat pergi ke kantin. Ada tugas penting yang diberikan oleh Bunda Aini kepada saya. Bunda Aini adalah seorang bloger yang mengajar jurnalistik kepada santri di Pesantren Baitul Arqam, Sibreh, Aceh Besar.

Ternyata, tugas yang diberikan kepada saya adalah mewawancarai seorang wanita inspiratif yang sangat pintar. Ia merupakan lulusan dari Universitas Kairo, Mesir dan bergelar Bachelor of Arts (BA). Namanya Nurmarini Abdurrahman. Usianya juga masih muda.

Ustazah Marini, begitu kami kerap memanggilnya. Ia merupakan sosok guru yang asyik ketika diajak bicara, ramah, dan sedikit tegas. Saya pertama kali bertemu dengannya saat menjadi santri baru di pesantren ini. Saat itu saya mendapat kesan baik dan saran-saran darinya agar menjadi siswa yang baik.

Ustazah Marini berasal dari keluarga sederhana dari sebuah desa di Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Ia merupakan anak ke-8 dari sepuluh bersaudara. Mencari pengalaman di tempat baru merupakan hal yang disukai oleh wanita yang satu ini. Itulah yang membawanya ke luar negeri.

Kuliah di luar negeri bukanlah perkara yang mudah. Selain karena harus berbaur dengan lingkungan baru, juga sangat jauh dari tanah kelahiran dan harus meninggalkan orang tua dan keluarga. Bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang menaruh di bidang pendidikan sastra Arab, kuliah di Kairo merupakan pilihan yang tepat.

Wanita kelahiran 4 Juli 1990 ini lulusan SMA 4 Banda Aceh dan mengambil kesempatan untuk kuliah di Universitas Kairo. Salah satu perguruan tinggi terbaik di Mesir untuk saat ini. Namun, sebelumnya ia sempat kuliah di UIN Ar-Raniry selama tiga semester.

“Sebelum saya ke Mesir, saya sudah duluan bersekolah di UIN Ar-Raniry selama tiga tahun dan juga ketika sampai di Mesir saya ikut les bahasa Arab selama setahun,” kata Ustazah Marini saat saya mewawancarainya.

Ia mendapatkan gelar BA pada usia 25 tahun. Sekarang menjadi salah satu guru di Pesantren Baitul Arqam. Selain itu, juga mengajar di Dayah Insan Qurani, Aceh Besar. Ia bercerita, sejak SD hingga SMA sudah sering belajar bahasa Inggris, tetapi karena menyukai tantangan baru saat kuliah memilih mempelajari bahasa Arab.

Namun, karena di UIN Ar-Raniry tidak terlalu fokus pada bahasa Arab membuatnya ingin melanjutkan belajar di Mesir. Awalnya hanya untuk kursus selama setahun, tetapi belakangan ia melanjutkan kembali kuliahnya di sana. Selama kuliah kesulitan yang dihadapinya adalah dalam menerjemahkan kitab.

“Suka duka yang saya alami selama berada di sana, saya pernah mengeluh ketika menerjemahkan kitab, saya bisa menerjemahkan kitab itu maksimal dalam satu hari satu halaman,” ujarnya.

Hal itu menyebabkan dirinya merasa ketinggalan dengan teman-temannya, yang mampu menerjemahkan selembar kitab hanya dalam beberapa jam saja. Ia pun sempat menceritakan kesulitannya kepada salah seorang temannya. Menurut temannya, kesulitan itu wajar karena Ustazah Marini baru mempelajari bahasa Arab saat kuliah. Sedangkan teman-temannya sudah mempelajarinya sejak madrasah.

Ucapan temannya itu dijadikan motivasi oleh Ustazah Marini sehingga tidak ada alasan untuk patah semangat. Apalagi sampai menyerah. Setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita harus menutupi kekurangan yang kita miliki dengan cara memperbaikinya dan belajar lebih banyak lagi.

Saya juga menanyakan, mengapa wanita harus bersekolah tinggi. Menurutnya, pendidikan itu merupakan suatu hal yang sangat menarik untuk dibahas. Sejak puluhan tahun yang lalu emansipasi seorang wanita telah dikumandangkan oleh Raden Ajeng Kartini. Bahkan katanya, tidak ada perbedaan antara pendidikan yang diterima oleh seorang laki-laki dengan perempuan. Di dalam Alquran pun tidak pernah membedakan derajat seorang wanita dengan laki-laki.

Dalam Islam, yang membedakan seorang manusia dengan manusia yang lain hanyalah pada keimanan dan ketakwaannya. Jadi, tidak ada suatu perkara apa pun yang bisa melarang wanita untuk bersekolah tinggi. Meskipun pemerintah telah memberikan layanan pendidikan yang sama kepada wanita seperti halnya pada laki laki, tetapi masih ada wanita yang puas hanya dengan memiliki ijazah lulusan SMA. Hal tersebut bertentangan dengan prinsip seorang wanita yang saya wawancarai ini.

Baginya pendidikan itu merupakan suatu hal yang harus dimiliki oleh seorang wanita karena wanita merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya, dan harus memberikan hal yang baik bagi anak-anaknya. Memiliki pendidikan yang bagus juga bisa membahagiakan orang tua yang sudah menyekolahkan anak-anaknya sejak usia dini. Namun, tidak hanya itu seorang wanita juga sangat berperan dalam lingkungan tidak hanya cukup dengan peran domestik saja.

“Wanita sangat diperlukan dalam lingkungan sosial karena wanita itu adalah penyeimbang. Ada hal yang ada pada wanita dan tidak dimiliki oleh laki laki,” katanya.

Ia juga mengatakan, tidak semua orang yang sudah sukses itu sudah cukup dengan kesuksesannya. Mereka pasti masih memiliki impian yang lain. “Ada satu hal yang saya inginkan yang belum tercapai, yaitu menjadi seorang pengusaha sukses yang dermawan.”

Begitu mulia impian wanita yang sangat suka membaca novel motivasi ini. Salah satu novel yang sangat ia sukai berjudul Sang Pemimpi. Novel ini memberikan motivasi sekaligus semangat dalam bermimpi baginya.

“Selain itu saya juga suka memelihara ikan cupang,” katanya sambil terkekeh. Kegiatan positif lainnya yang biasa ia lakukan adalah selalu mengingat-ingat semua kesalahan dan dosa yang telah dilakukan seharian.

Kami pun tertawa, dan percakapan berakhir karena bel masuk berdering. Menandakan bahwa para siswa harus segera memasuki kelasnya masing-masing. Ustazah pun pamit diri karena harus mengajar di Dayah Insan Qurani.[]

*Penulis adalah santri kelas I MA Dayah Baitul Arqam, Sibreh, Aceh Besar.

Geubrina Tifal Nada Tekad Ustazah Marini Menempuh Pendidikan hingga ke Mesir

TINGGALKAN KOMENTAR

Video Terbaru

Data Sekolah

Dayah Pesantren Baitul Arqam (MTs dan MA)

NPSN : 69788268 / 69963522

Jln Banda Aceh Medan KM 15,5 Tampok Blang
KEC. Sukamakmur
KAB. Aceh Besar
PROV. Aceh
KODE POS 23361
TELEPON 08116800210
FAX 0000000
EMAIL info@baitularqam.sch.id

Maps Sekolah