SEKILAS INFO
: - Minggu, 13-06-2021
  • 1 tahun yang lalu / Penerimaan santri baru Tahun Ajaran 2020/2021 Gelombang I 01 Januari s/d 28 Maret 2020
Teman-Teman, Seriuslah Belajar Alquran Selagi Muda

Oleh: Rahmah Nauli Nababan*

 

Namaku Uli. Dulu aku kelas I MTs di Dayah Pesantren Baitul Arqam. Menurutku hidup di sini sangat menyejukkan pikiran karena di sini tidak ada suara mobil yang membuat orang terbangun ketika istirahat.

Dulu aku tidak pernah tahu apa itu huruf hijayah, tapi alhamdulillah sekarang aku bisa membaca Alquran dengan lancar. Aku itu dulu belajar Iqra pada Kak Ida dan Kak Puput. Aku belajar pada Kak Ida biasa saja, tapi alhamddulillah kalau dengan Kk Ida itu aku cepat nangkap cara membacanya maupun tajwidnya.

Seetelah aku belajar mengaji pada Kak Ida, aku kemudian disuruh belajar lagi pada Ustaz Yasir untuk mengulang bacaannya lagi. Akhirnya aku belajar Iqra lagi pada Kak Puput setelah zuhur. Aku selalu menangis ketika giliranku tiba karena aku melihat temanku yang bernama Arni sangat pandai membaca Iqra. Bacaan Iqra Arni juga tidak ada koreksi. Ketika giliranku tiba, satu halaman menghabiskan waktu satu hari, sedangkan Ari dua lembar sehari.

Aku pun tidak mau kalah dengan temaku yang satu ini. Aku selalu mengulang-ulang bacaanku di asrama agar bisa melewati bacaannya Arni. Aku gagal karena teman kelasku semuanya sudah mulai menghafal juz 30. Giliran aku yang belum mengejar mereka. Aku tidak berputus asa. Setahun lamanya aku belajar Iqra pada Kak Puput, akhirnya selesai juga.

Aku tersenyum karena aku sudah bisa membaca Alquran walaupun agak macet-macet tapi nggak apa-apa kata Ustaz Yasir. Karena kalau kita sering membaca Alquran insyaallah, Allah akan memberikan jalan bagi hamba-Nya yang ingin berjuang di jalan-Nya.

Targetku adalah pada saat itu aku ingin mengkhatamkan Juz Amma dalam beberapa bulan. Ketika aku melanjutkan ke surah Albaqarah rasanya hati ini berat untuk menghafal, apa lagi kalau melihat surah Albaqarah yang halamannya berjumlah 47. Rasanya ingin langsung lompat ke surah Aliimrah, tapi karena aku ingat sama ayah makanya aku jadi semangat menghafal dan harus ikhlas.

Kata temanku, kalau mau menghafal dengan cepat aku harus jauh dari lagu-lagu yang tidak ada manfaatnya. Dan kalau menghafal itu aku harus fokus pada halaman yang mau aku hafalkan. Dan alhamdulillah aku sudah bisa melewatkan hafalan teman-temanku, palingan ada yang beda dua lembar ataupun ada temaku yang hafalannya sudah banyak paling selisih satu juz.

Aku ingin sekali mengajarkan teman-teman yang belum pas tajwidnya, dan aku ingin aku bisa mengajarinya kepada orang yang ingin sekali menghafal dengan serius mungkin. Mudah-mudahan teman-teman yang ada di luar sana bisa lebih dari aku, mungkin teman- teman bisa menghafal Alquran itu satu halaman sehari? Mudah-mudahan bisa ya teman.J

Apa kabar teman-teman apakah hafalan kalian sudah bertambah?.Semoga jawabannya “iya”.

Semangat ya teman-temanku dan saudara-saudaraku, semoga kalian sampai ke syurganya Allah dan jangan lupa teman–temaan tidak boleh pelit berbagi ilmu ya. Aku hanya ingin kalian bisa seperti hafiz-hafizah yang bisa menyelamatkn orang muslim di akhirat kelak. Dan bisa membawa keluarga-keluarga menuju surga Allah yang paling tinggi yaitu surga Firdaus.

Semoga aku bisa memperbaiki bacaan orang-orang yang ada di kampungku, entah kenapa aku merasa bacaan mereka belum pas bagiku. Ketika aku mendengar bacaan mereka ingin sekali aku untuk memperbaikinya tapi aku takut karena banyak teman–temanku yang menertawakanku ketika mengaji.

Ada salah satu temanku yang sangat suka dengan iramaku. Dia adalah temanku yang bernama Geubrina Thifal Nada yang berasal dari Aceh Barat Daya. Dia juga bisa menirukan suaraku. Aku juga pernah bertanya kepadanya, “Fal suara Uli jelek, ya?” ujarku.

“Mana ada! Thifal aja suka irama Uli karena suara Uli itu adalah seni bagi Thifal,” ujarnya sambil memelukku.

Setiap pelajaran tajwid pasti aku yang selalu nunjuk untuk kubaca walaupun iramaku tidak pas dengan apa yang diajarkan oleh Ustaz Yasir.

Setiap aku mengaji pasti aku jauh-jauh dari teman-temanku yang lain karena aku takut iramaku dikomentari oleh teman-temanku.

Beberapa bulan yang lalu aku memiliki seorang teman yang bernama Abdul. Dia teman sekelasku tapi aku sedih karena dia pindah sekolah. Dia belum bisa membaca Alquran tiba-tiba dia datang kepadaku pada pelajaran Alquran Hadis. “Li, ajarinlah dulu aku!”

“Sinilah,” kataku.

Setelah aku mengoreksi bacaanya dia bilang kepadaku, “Li aku malulah masak aku belajar ngaji sama teman kelas?” ujarnya.

“Kenapa emangnya? Kalu kita belajar itu gak usah memandang umur yang penting kita belajar!”

“Malah ada orang tua yang belajar ngaji sama anak muridnya lagi!”

Sejak aku berbicara seperti itu, setiap hari Senin dia selalu belajar mengaji padaku. Alhamdulillah bacaanya sudah mulai membaik dan entah kenapa dia pindah sekolah? Kami saja yang teman kelasnya sampai kebingungan ketika kami tahu bahwa dia pindah ke Medan tempat dia berasal.

Ada seorang adik kelasku, dia minta diajarkan mengaji olehku stiap habis salat Asar. Dia paling susah membedakan huruf ha kecil dan ha besar. Jadi, agar dia ingat, aku selalu mengajarinya dengan sebuah lagu yang enak untuk diingat.

Aku sangat menyesal, ketika umurku menginjak16 tahun aku berpikir: kenapa aku tidak dari dulu belajar mengaji, kan kalau aku bisa mengaji aku bisa mengirimkan doa kepada orang-orang yang aku cinta dan orang yang aku sayang.

Aku itu kalau menjadi makmum di rumah dan ayahku menjadi imam, aku sangat suka dengan irama bacaan Alquran ayahku. Bagiku, ayahkulah yang paling merdu suaranya dibandingkan orang-orang yang ada di kampungku.

Pada saat liburan kemarin aku mendengar Kak Ulfa—kakaku—mengaji. Ketika aku mendengar dia membacakan surah Alfatihah kurasa banyak sekali tajwidnya yang salah walaupun iramanya bagus.

“Kak irama Kakak bagus tapi tajwid Kakak kurang tepat,” ujarku mengoreksi.

Dia menjawab dengan bangga, “Itulah Dek Li kan, ustaz Kakak pun di bilangnya gitu irama Kakak bagus, tapi banyak yang harus diperbaiki” ujarnya.

“Tulah, Kak, banyak-banyak baca Alquran biar bisa!”

“Kayak mana mau Dek Li, Kakak dah punyak anak mana ada waktu untuk ngaji?”

Aku menjawab dengan lantangnya, “Makanya Kak kalau ada waktu yang luang disempat-sempatin untuk ngaji, tu lah Kakak gak bisa ngatur waktu.”

“Uli aja yang umur Uli segini rasanya nyesal kali karena gak belajar ngaji dari dulu.”

“Nanti Kakak rasain aja kalau Kakak udah tua pasti nyesal. Nyesal kalipun!”

Semoga teman-temanku yang di luar sana belajarlah dari sekarang karena kalau rambutmu sudah beruban di situlah kamu akan menyesal.[]

*Siswa kelas I Madrasah Aliyah

TINGGALKAN KOMENTAR

Video Terbaru

Data Sekolah

Dayah Pesantren Baitul Arqam (MTs dan MA)

NPSN : 69788268 / 69963522

Jln Banda Aceh Medan KM 15,5 Tampok Blang
KEC. Sukamakmur
KAB. Aceh Besar
PROV. Aceh
KODE POS 23361
TELEPON 08116800210
FAX 0000000
EMAIL info@baitularqam.sch.id

Maps Sekolah